RUANG MEROKOK MEWAH DAN MUDAH DIJANGKAU UNTUK MEMINIMALISIR PEROKOK MEROKOK DI RUANG PUBLIK DI BANDARA SOEKARNO HATTA (BAB III)


Kelompok:

  1. Muktarom                  (NIM: 2341.13. 006)
  2. Hari Setyanto            (NIM: 2341.13. 003)
  3. Raiza Pricilia              (NIM: 2241.10. 244)
  4. Gustiana triyani        (NIM: 2241.10. 300)

Kelas: S1 MTU D (11)

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ilmiah faktor metodologi memegang peranan penting guna mendapatkan data yang obyektif, valid dan selanjutnya digunakan untuk memecahkan permasalahan yang telah dirumuskan. Berdasarkan rumusan masalah yang telah kami kemukakan, maksud dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai seberapa pentingnya ruang publik yang bersih, sehat dan bebas dari asap rokok di Bandara Soekarno-Hatta.

Metodologi penelitian yang kami gunakan dalam tulisan ini adalah metode observasi yaitu melalui pengamatan langsung dan kuesioner kepada khalayak umum. Dengan menggunakan metodologi penelitian ini kami akan mendapatkan gambaran dan data yang akurat, terpercaya mengenai keinginan khalayak tentang kebersihan udara di Bandara Soekarno Hatta.

Target responden kami adalah khalayak umum baik perokok maupun yang bukan perokok yang pernah berada dan menggunakan fasilitas umum di Bandara Soekarno-Hatta. Kuesioner yang kami buat berupa pertanyaan-pertanyaan yang relevan, logis dan mudah dimengerti masyarakat luas. sehinggga  responden mudah untuk mengisi kuesioner yang kami berikan.

Flight in Culture


Ragil sindy restyandhari
224111244
Nadia angie erika
224111058
Fitri anggara
224111116
Dimas
224109197

BAB I
Pendahuluan
 1.1 Latar Belakang
   Dewasa ini, Seiring dengan berkembangnya zaman yang begitu pesat Globalisasi memberikan dampak negatif yang tidak bisa dianggap remeh. Salah satu dampak dari globalisasi sangat berpengaruh terhadap kelestarian kebudayaan Indonesia. Norma-norma asas-asas yang terkandung dalam kebudayaan Indonesia yang perlahan-lahan makin terlupakan dan tak diperhatikan oleh masyarakat.  Sebuah inovasi sangatlah penting dilakukan dengan barbagai cara apapun agar kita tidaklah melupakan budaya dan memberikan inovasi lebih pada maskapai penerbangan guna memberikan keuntungan serta memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada customer.  Sebagai main Brand perusahaan penerbangan Indonesia, Garuda Indonesia telah mempersiapkan sebuah maskapai yang berbau Cultural yaitu “Flight in Culture”. Tidak mau kalah dengan perusahaan tetangga yaitu Lion Air yang sebagaimana menjadi induk perusahaan dari Batik Air yang telah beroperasi sejak Maret 2013 dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900ER.  Garuda Indonesia memberikan sebuah ide mengenai interior maskapai penerbangan yang sekaligus memperkenalkan kepada customers mengenai budaya dan kultur yang ada di Indonesia. Ketika customers berada didalam maskapai yang ia naiki, customer merasakan kenyamanan dan mengetahui serta dapat mengenal tempat yang akan dia tuju dengan memberikan segala bentuk informasi yang disediakan didalam maskapai tersebut. Hal ini dapat berupa, lukisan, Film ringan mengenai tempat tujuan, kebudayaan yang terdapat di tempat tujuan serta tempat-tempat wisata yang terdapat pada tempat tujuan tersebut.  Dan di dukung pula dengan Eksterior yang berhubungan dengan kultural Indonesia. Dengan cara ini tidak hanya dapat melestarikan budaya Indonesia senidiri namun dapat dijadikan sebagai identitas negara Indonesia di kancah dunia Airline karena bersifat unik dan  cultural pastinya.  Selain itu menu makanan yang disajikan bukan makanan yang umum melainkan menyerupai resto khusus indonesia yang menyajikan makanan khas indonesia dari berbagai daerah. Dan di layaini oleh pramugara/i yang menggunakan pakaian adat yg simple, tetapi edgy dan memiliki unsur cultural pastinya.  Ditambah lagi dengan menyelipkan bahasa-bahasa daerah Indonesia. Pramugari/a tidak hanya dituntut untuk bisa dan menguasai bahasa inggris dan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa daerah di Indonesia. Dengan begini image yang terkenal mengenai pramugara/i akan lebih baik karena tidak hanya di tuntut kecantikan luar melainkan kreativitas dan kecerdasan yangmenjadi nilai tambahnya.  Selain itu tidak hanya memberikan informasi kepada customer namun melainkan Garuda Indonesia memperikan experience baru dan dapat menarik minat customer untuk berlibur ke daerah-daerah yang diperkenalkan yang belum pernah disinggahi bahkan di ketahui oleh customer, karena pada dasarnya Indonesa kaya sekali akan kebudayaan.with  Garuda Indonesia Flight in Culture tidak hanya memberikan service berupa kenyaman namun memberikan real experience dengan slogan khususnya “Coloring your trip through Garuda Indonesia in Culture”.  
1.2 Rumusan Masalah
  A. Globalisasiyang memudarkan kebudayaan, norma dan asas bangsa Indonesia.
B. Kebudayaan yang diakui oleh negara lain
C. Melahirkan Inovasi dalam memberikan kenyamanan dan experience bagi penumpang     1.3 Tujuan.
A. Memperkenalkan kebudayaan Indonesia dalam memeberikan kenyamanan saat perjalanan menggunakan maskapai penerbangan. B. Memberikan inovasi baru dan menjadikannya usaha untuk menarik minat masyarakat dalam menggunakan moda transportasi udara.
C. Dengan besarnya rasa keingintahuan customer maka diharapkan memberikan benefit baik secara financial maupun non financial.  

Ruangan Relaksasi dan Perawatan didalam Pesawat


Efra Umara (2241.11.089)

Novri Hanggoro (2241.11.090)

Putra Adi Pratama (2241.11.264)

Aditya Wisnu W (2241.12.203)

Bab I

Pendahuluan

Didalam dunia penerbangan sangat dituntut akan keselamatan dan kenyamanan bagi para penumpang maskapai penerbangan, baik pada saat pre-flight, in-flight maupun post flight. Bagi para penumpang yang menggunakan jasa penerbangan biasanya membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama.

Untuk mambuat penumpang semakin nyaman didalam pesawat, banyak penumpang yang membutuhkan relaksasi, agar perjalanan terasa tidak melelahkan dan menjenuhkan, ini dikhususkan untuk penerbangan internasional, yang membutuhkan penerbangan yg sangat lama dengan jarak yang sangat jauh, dikarenakan juga mayoritas penumpang jasa angkutan udara adalah seorang pebisnis yang membutuhkan relaksasi dan kenyamanan.

Khususnya bagi para wanita yang tidak sempat dengan waktu untuk pergi ketempat perawatan dan relaksasi, maka pihak air line menyediakan ruangan relaksasi dengan orang yang ahli dalam relaksasi dan perawatan tubuh.

Maka dengan ini kelompok kami mengangkat judul tentang “Ruangan Relaksasi dan Perawatan didalam Pesawat”

Ruangan Relaksasi dan Perawatan didalam Pesawat


Efra Umara (2241.11.089)

Novri Hanggoro (2241.11.090)

Putra Adi Pratama (2241.11.264)

Aditya Wisnu W (2241.12.203)

BAB I

Pendahuluan

  Didalam dunia penerbangan sangat dituntut akan keselamatan dan kenyamanan bagi para penumpang maskapai penerbangan, baik pada saat pre-flight, in-flight maupun post flight. Bagi para penumpang yang menggunakan jasa penerbangan biasanya membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama.

  Untuk mambuat penumpang semakin nyaman didalam pesawat, banyak penumpang yang membutuhkan relaksasi, agar perjalanan terasa tidak melelahkan dan menjenuhkan, dikarenakan juga mayoritas penumpang jasa angkutan udara adalah seorang pebisnis yang membutuhkan relaksasi dan kenyamanan.

  Khususnya bagi para wanita yang tidak sempat dengan waktu untuk pergi ketempat perawatan dan relaksasi, maka pihak air line menyediakan ruang relaksasi dengan orang yang ahli dalam relaksasi dan perawatan.

  Maka dengan ini kelompok kami mengangkat judul tentang “Ruangan Relaksasi dan Perawatan didalam Pesawat”.

E-Immigration di Bandara Soekarno-Hatta


Ketua Kelompok:
Agmi Pradini Arifani (2241.11.135)

Anggota Kelompok:
Novi Amelia Sari (2241.11.056)
Iwan Syukuri (2241.11.112)
Nur Hazhiyah Dirayati (2241.11.145)
Yulia Endang Tri Wahyuni (2241.11.146)
Ammy Diah Kusuma Wardhani (2241.11.188)

Bab IV

Analisis Data

Pada bab IV kelompok kami akan menganalisis hasil survey yang telah dilakukan melalui sistem online yang kami sebar melalui media social dengan survey yang diberi judul “Penggunaan E-Immigration pada Bandara International Soekarno Hatta” dengan metode analisis data deskriptif dan kualitatif menggunakan data primer. Baca lebih lanjut