Flight in Culture


Nama :
Fitri Anggara Adi 2241.11.116
Nadia Angie Erika 2241.11.058

Flight in Culture

BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, Seiring dengan berkembangnya zaman yang begitu pesat Globalisasi memberikan dampak negatif yang tidak bisa dianggap remeh. Salah satu dampak dari globalisasi sangat berpengaruh terhadap kelestarian kebudayaan Indonesia. Norma-norma asas-asas yang terkandung dalam kebudayaan Indonesia yang perlahan-lahan makin terlupakan dan tak diperhatikan oleh masyarakat.
Sebuah inovasi sangatlah penting dilakukan dengan barbagai cara apapun agar kita tidaklah melupakan budaya dan memberikan inovasi lebih pada maskapai penerbangan guna memberikan keuntungan serta memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada customer.
Sebagai main Brand perusahaan penerbangan Indonesia, Garuda Indonesia telah mempersiapkan sebuah maskapai yang berbau Cultural yaitu “Flight in Culture”. Tidak mau kalah dengan perusahaan tetangga yaitu Lion Air yang sebagaimana menjadi induk perusahaan dari Batik Air yang telah beroperasi sejak Maret 2013 dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900ER.
Garuda Indonesia memberikan sebuah ide mengenai interior maskapai penerbangan yang sekaligus memperkenalkan kepada customers mengenai budaya dan kultur yang ada di Indonesia. Ketika customers berada didalam maskapai yang ia naiki, customer merasakan kenyamanan dan mengetahui serta dapat mengenal tempat yang akan dia tuju dengan memberikan segala bentuk informasi yang disediakan didalam maskapai tersebut. Hal ini dapat berupa, lukisan, Film ringan mengenai tempat tujuan, kebudayaan yang terdapat di tempat tujuan serta tempat-tempat wisata yang terdapat pada tempat tujuan tersebut.
Dan di dukung pula dengan Eksterior yang berhubungan dengan kultural Indonesia. Dengan cara ini tidak hanya dapat melestarikan budaya Indonesia senidiri namun dapat dijadikan sebagai identitas negara Indonesia di kancah dunia Airline karena bersifat unik dan cultural pastinya.
Selain itu menu makanan yang disajikan bukan makanan yang umum melainkan menyerupai resto khusus indonesia yang menyajikan makanan khas indonesia dari berbagai daerah. Dan di layaini oleh pramugara/i yang menggunakan pakaian adat yg simple, tetapi edgy dan memiliki unsur cultural pastinya.
Ditambah lagi dengan menyelipkan bahasa-bahasa daerah Indonesia. Pramugari/a tidak hanya dituntut untuk bisa dan menguasai bahasa inggris dan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa daerah di Indonesia. Dengan begini image yang terkenal mengenai pramugara/i akan lebih baik karena tidak hanya di tuntut kecantikan luar melainkan kreativitas dan kecerdasan yangmenjadi nilai tambahnya.
Selain itu tidak hanya memberikan informasi kepada customer namun melainkan Garuda Indonesia memperikan experience baru dan dapat menarik minat customer untuk berlibur ke daerah-daerah yang diperkenalkan yang belum pernah disinggahi bahkan di ketahui oleh customer, karena pada dasarnya Indonesa kaya sekali akan kebudayaan.with
Garuda Indonesia Flight in Culture tidak hanya memberikan service berupa kenyaman namun memberikan real experience dengan slogan khususnya “Coloring your trip through Garuda Indonesia in Culture”.

1.2 Rumusan Masalah

A. Globalisasi yang memudarkan kebudayaan, norma dan asas bangsa Indonesia.
B. Kebudayaan yang diakui oleh negara lain
C. Melahirkan Inovasi dalam memberikan kenyamanan dan experience bagi penumpang

1.3 Tujuan.

A. Memperkenalkan kebudayaan Indonesia dalam memeberikan kenyamanan saat perjalanan menggunakan maskapai penerbangan.
B. Memberikan inovasi baru dan menjadikannya usaha untuk menarik minat masyarakat dalam menggunakan moda transportasi udara.
C. Dengan besarnya rasa keingintahuan customer maka diharapkan memberikan benefit baik secara financial maupun non financial.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Globalisasi
Secara umum, Globalisasi merupakan proses pesat atau progress dari perkembangan zaman dilihat dari perkembangan pergaulan, teknologi, gaya hidup dll. Yang dampaknya negatif atau positif tergantun individu, kelompok atau bahkan antar negara yang saling berinteraksi memperkenalkan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

2.2 Kebudayaan Indonesia
Secara umum, Kebudayaan adalah nilai-nilai atau asas-asas yang dianut oleh masyarakatterhadap berbagai hal. Baik nilai persepsi mengenai psikologis, kejiwaan, kebiasaan dalam kegiatan sehari-hari.
Menurut Salah satu Ahli yaitu Edward B. Taylor, Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan lain yang di dapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.

2.3 Globalisasi dan Kebudayaan Indonesia
Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek, khususnya aspek budaya. Perkembangan globalisasi kebudayaanterjadi sejak awal 20-an dimana terjadinya perkembangan teknologi dan komunikasi.
Dengan mudahnya manusia dapat berkomunikasi dengan orang lain dari lingkungan, daerah, bahkan negara lain. Dari kegiatan inilah tidak heran kebudayaan asing mudah masuk dan dapat saling mempengaruhi.
Dapat dilihat dari aspek yang paling kecil yaitu cara berbicara, cara berpakaian, gaya hidup dll. Sehingga kebudayaan asli Indonesia dapat di katakan terancam keaslianya. Contoh kecilnya pula, Masyarakat Indonesia lebih mencintai produk dalam negeri. Konsumen lebih memilih membeli produk dari luar negeri hal ini terjadi karena salah satu dampak dari berkembangnya globalisasi.

2.3 Moda Transportasi Udara
Moda Transportasi terbagi menjadi 4 golongan yaitu Transportasi Udara, Transportasi Laut, Transportasi Darat dan Transportasi Pipa. Disini kami akan memberikan perhatian penuh terhadap Moda Transportasi Udara.
Menurut UU No. 1 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 3 mengenai Pesawat Udara adalah setiap mesin atau alat yang dapat terbang di atmosfer karena gaya angkat dari reaksi udara, tetapi bukan reaksi udara terhadap oermukaan bumi yang digunakan untuk penerbangan.
Dan ayat 4 mengenai Pesawat Terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara, bersayap tetap, dan dapat terbang dengan tenaga sendiri.

Kerangka Pemikiran

BAB III
Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian merupakan analisis teoritis mengenai suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.

Kami selaku penulis menggunakan metodologi penelitian untuk mendapatkan data yang konkrit dan valid yang dapat di jadikan sebagai panduan dan tolak ukur dalam pencapaian tujuan dan penyelesaian suatu masalah.

Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian kualitatif & SWOT. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi dari inovasi yang akan di berikan yaitu pelayanan dalam dunia transportasi udara tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.
Pendahuluan bermanfaat sebagai Dasar untuk mengembangkan Kerangka pikiran dan dapat di ketahuinya seluk beluk untuk membangun, menyesuaikan dan mengembangkan inovasi dalam perealisasiaannya.
Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.
Selain Metode Kualitatif yang di gunakan, kami melakukan analisis SWOT untuk mematangkan konsep dan pengembangan inovasi ini. Di lihat dari Perkembangan zaman yaitu seberapa pesat perkembangan Globalisasi dalam bidang budaya dan teknologi serta dilihat dari faktor internal dan eksternal yang dapat saling mempengaruhi.

Dari metode dan analisis inilah yang dapat menghasilkan hasil atau jawaban untuk perealisasian. Dengan menentukan bagaimana dalam penanganan seperti apa yang paling tepat dalam bidang Manajemen, Promosi, dll. Hasil dari penelitian akan di pilih sesuai dengan kualitas dan kuantitas dengan adanya penyesuaiaan dengan kondisi globalisasi dan sosial budaya yang ada. Dengan di dukung dengan perencanaan interior dan eksterior yang sangat cultural dan khas indonesia.

RUANG MEROKOK MEWAH DAN MUDAH DIJANGKAU UNTUK MEMINIMALISIR PEROKOK MEROKOK DI RUANG PUBLIK DI BANDARA SOEKARNO HATTA (BAB II – REVISI)


Kelompok:

  1. Muktarom                  (NIM: 2341.13. 006)
  2. Hari Setyanto            (NIM: 2341.13. 003)
  3. Raiza Pricilia              (NIM: 2241.10. 244)
  4. Gustiana triyani        (NIM: 2241.10. 300)

Kelas: S1 MTU D (11)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1       Pengertian merokok

Menurut Sitepoe (2000) dokter di bpbsk, merokok adalah membakar tembakau yang kemudian diisap isinya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur pada sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 900ºC untuk ujung rokok yang dibakar dan 30ºC untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok.

Definisi perokok sekarang menurut WHO dalam Depkes (2004) adalah

mereka yang merokok setiap hari untuk jangka waktu minimal 6 bulan selama hidupnya masih merokok saat survey dilakukan. Menurut Harrisons (1987) dalam Sitepoe (2000), asap rokok yang diisap atau asap rokok yang dihirup melalui dua komponen: komponen yang lekas menguap membentuk gas dan komponen yang bersama gas terkondensasi menjadi komponen partikulat. Dengan demikian, asap rokok yang diisap dapat berupa gas sejumlah 85% dan sisanya berupa partikel. Asap rokok yang diisap melalui mulut disebut mainstream smoke, sedangkan asap rokok yang terbentuk pada ujung rokok yang dihembuskan ke udara oleh perokok disebut sidestream smoke

2.2         Pengertian ruang merokok

A Smoking room (or smoking lounge) is a room which is specifically provided and furnished for smoking, generally in buildings where smoking is otherwise prohibited (wikipedia, February 2009).

Jadi menurut wikipedia di atas, ruang merokok adalah ruangan yang disediakan dan dilengkapi khusus untuk merokok, yang umumnya dibangun pada gedung yang tidak diperbolehkan merokok di dalamnya.

2.3         Pengertian ruang publik

Ruang publik yang dimaksud secara umum pada sebuah kota, menurut Project for Public Spaces in New York tahun 1984, adalah bentuk ruang yang digunakan manusia secara bersama-sama berupa jalan, pedestrian, taman-taman, plaza, fasilitas transportasi umum (halte) dan museum.

Jadi mengacu pada definisi tersebut menurut kelompok kami, ruang publik merupakan ruang yang dipergunakan secara bersama untuk berbagai macam kepentingan, sehingga harus mengindahkan berbagai peraturan dan tata krama untuk terciptanya suatu keharmonisan.

RUANG MEROKOK MEWAH DAN MUDAH DIJANGKAU UNTUK MEMINIMALISIR PEROKOK MEROKOK DI RUANG PUBLIK DI BANDARA SOEKARNO HATTA (Part II)


Kelompok:
1. Muktarom (NIM: 2341.13. 006)
2. Hari Setyanto (NIM: 2341.13. 003)
3. Raiza Pricilia (NIM: 2241.10. 244)
4. Gustiana triyani (NIM: 2241.10. 300)
Kelas: S1 MTU D (11)
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Sebagai bandara internasional, Bandara Soekarno-Hatta merupakan salah satu pintu gerbang negara Indonesia. Terkait dengan hal tersebut di atas, maka selayaknya Bandara Soekarno-Hatta harus mempunyai fasilitas yang memadai sehingga mampu memberikan kenyamanan bagi siapapun yang berada di dalamnya, baik itu bagi warga negara Indonesia maupun bagi warga negara Asing. Namun seringkali kondisi Bandara Soekarno-Hatta memberikan fasilitas yang kurang layak, yaitu banyaknya perokok yang merokok di ruang publik yang disebabkan oleh kurang layaknya ruang merokok dan jauhnya ruang untuk merokok. Untuk itu dibutuhkan ruangan untuk merokok yang bagus, mewah dan mudah dijangkau untuk menarik para perokok datang ketempatnya sehingga tidak ada lagi para perokok yang merokok di ruang publik di bandara. Dari uraian diatas penulis merasa tertarik untuk membuat tulisan karya ilmiah dengan judul “Ruang Merokok Mewah dan Mudah dijangkau Untuk Meminimalisir Perokok Merokok di Ruang Publik di Bandara Soekarno Hatta”.
II. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasi masalah yang terjadi
a. Tidak layaknya ruang merokok di Badara Soekarno Hatta
b. Tidak disiplinnya para perokok untuk merokok di ruang merokok yang telah disediakan
c. Terganggunya khalayak di Bandara Soekarno-Hatta karena asap rokok
III. Batasan Masalah
Agar pembahasan tidak meluas maka penulis hanya membatasi masalah pada ketidakdisiplinan para perokok di Bandara Soekarno-Hatta.
IV. Pokok Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
a. Apa yang menyebabkan ketidakdisiplinan para perokok di Bandara Soekarno-Hatta?
b. Bagaimanakah ruang merokok yang mewah dan mudah dijangkau itu?
V. Tujuan dan Manfaat Tulisan
Tujuan Tulisan Karya Ilmiah
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui tulisan karya ilmiah ini adalah:
a. Untuk megedukasi masyarakat tentang kedisiplinan merokok ditempat yang telah disediakan
b. Mencipatakan ruang publik di Bandara Soekarno-Hatta yang bersih dan bebas asap rokok.
Manfaat Tulisan Karya Ilmiah
1. Bagi Penulis
a. Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ground Handling
b. Untuk mengasah kemampuan kelompok kami dalam mengevaluasi permasalahan yang terjadi di masyarakat dan mencari solusi yang sesuai
2. Bagi Pembaca
Pembaca dapat memahami dan mengerti tentang ruang publik dan memanfaatkan fasilitas di ruang publik dalam hal ini ruang merokok dengan lebih bijakasana.

BAB II
LANDASAN TEORI
Ruang publik yang dimaksud secara umum pada sebuah kota, menurut Project for Public Spaces in New York tahun 1984, adalah bentuk ruang yang digunakan manusia secara bersama-sama berupa jalan, pedestrian, taman-taman, plaza, fasilitas transportasi umum (halte) dan museum.
Jadi mengacu pada definisi tersebut menurut kelompok kami, ruang publik merupakan ruang yang dipergunakan secara bersama untuk berbagai macam kepentingan, sehingga harus mengindahkan berbagai peraturan dan tata krama untuk terciptanya suatu keharmonisan.

ANALISIS KONSTRUKSI SPIDER WEB UNTUK APRON


ANALISIS KONSTRUKSI SPIDER WEB UNTUK APRON

Kelompok      :

  1. Muktarom                  (NIM 2341. 13. 006)
  2. Hari Setyanto            (NIM 2341. 13. 003)
  3. Raiza Pricilia               (NIM 2241.10.244)
  4. Gustiana triyani        (NIM 2241.10.300)

Kelas  :

      I.        Latar Belakang

Fasilitas bandar udara terdiri dari fasilitas sisi darat dan fasilitas sisi udara. Fasilitas sisi darat terdiri dari terminal, tempat parkir kendaraan penumpang dan curb. sedangkan fasilitas sisi udara terdiri dari runway, taxiway dan apron. Apron merupakan bagian dari bandar udara yang digunakan sebagai tempat parkir pesawat terbang. Selain untuk parkir, apron juga digunakan untuk kegiatan ground handling. Konstruksi apron umumnya menggunakan kontruksi flexible (asphalt) dan kontruksi beton bertulang, karena memikul beban yang sangat besar maka diperlukan suatu konstruksi bangunan yang kuat dan tahan lama.

Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk membuat tulisan dengan judul “ ANALISIS KONSTRUKSI SPIDER WEB UNTUK APRON”.

    II.        Rumusan Masalah

Sering rusaknya apron dalam jangka waktu pendek, tidak cukup hanya menggunakan kontruksi flexible (asphalt) dan kontruksi beton bertulang terlebih jika apron dibangun pada lahan dengan jenis lahan gambut atau tanah yang tidak stabil (mudah bergerak) ,maka dari itu diperlukan suatu cara untuk bisa menyelasaikan atau mengatasi kondisi tersebut,untuk itu kami mencoba untuk membuat atau menganalisis pembuatan apron dengan system Spider Web.

   III.        Batasan Masalah

Agar pembahasan tidak meluas maka penulis hanya membatasi masalah mengenai konstruksi apron pada lahan yang berjenis lahan gambut atau tanah yang tidak stabil (mudah bergerak).

  IV.        Tujuan dan Manfaat

  1. Tujuan

Adapun tujuan yang hendak dicapai melalui tulisan ini adalah Agar kedepannya konstruksi spider web bisa diterapkan pada bandara-bandara dengan kondisi tersebut.

  1. Manfaat
    1. Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan tentang konstruksi apron.

  1. Bagi Pembaca

Agar pembaca mengerti tentang seluk beluk konstruksi spider web untuk apron.

Perlukah Sekolah Pramugari ?


Ragam sekolah atau lembaga pendidikan non akademis semakin marak di lingkungan kita, salah satunya adalah sekolah Flight Attendant atau biasa dikenal dengan Awak Kabin.

 

Istilah Flight Attendant (FA), Awak Cabin, Stewardess bisa pria atau wanita namun istilah itu masih kalah populer dibandingkan dengan kata pramugari, oleh karenanya saya akan gunakan saja kata “Pramugari” walau maksudnya bisa pria atau wanita.

 

Flight Attendant

Flight Attendant

 

Kembali ke sekolah pramugari … sempat saya terheran-heran dan kagum melihat sekolah dengan jurusan khusus … Pramugari … bahkan beberapa teman di lingkungan pekerjaan saya beranggapan bahwa nantinya setelah lulus mereka akan langsung jadi pramugari … hmmmmm

 

Lingkungan kerja di airport adalah tujuan PKL yang sering disambangi siswa siswi dari berbagai macam jenis sekolah, salah satunya adalah sekolah pramugari, tentunya sebagai pengajar saya selalu ingin tahu lebih dalam mengenai materi yang mereka dapat di bangku sekolahnya.

 

Masa pendidikan yang mereka lalui beragam, ada yang 3 bulan, 4 bulan, bahkan sampai 8 bulan. Setelah melalui sebagian besar kurikulum yang ditetapkan mereka diwajibkan menjalani PKL (Praktek Kerja Lapangan) …. nahhhh ini yang mulai aneh…

 

Di sela-sela kegiatan PKL mereka banyak bertukar pendapat dengan saya tentang dunia pramugari,  banyak cerita terpapar dari siswa siswi PKL itu, juga harapan untuk menjadi pramugari. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah Baca lebih lanjut

GROUND HANDLING on RAMP HANDLING


KELOMPOK                         : 1

KELAS                                    : D3 MTU-GH 11

DOSEN                                  : EKO PROBO D WARPANI

NAMA                                  : HETRO HANDITRO                                         2431 11 003

RARA RESTI REGATA                                     2431 11 014

NELA RIZKY FEBRIYANTI                              2431 11 023

ZAHIR

Bandar Udara merupakan suatu unsur terpenting dalam penerbangan, bandar udara juga mempengaruhi terlaksana atau tidaknya suatu penerbangan. Bandar udara merupakan tempat terlaksananya berbagai aktivitas opersional penerbangan, seperti :check-in, boarding, penanganan pelayanan terhadap pesawat dan lain-lain. Dalam melaksanakan operasional penerbangan tersebut terdapat suatu unit yang fokus dalam pelayanan opersional penerbangan, yaitu Ground Handling.  Ground Handling adalah satu unit yang menangani pelayanan Baca lebih lanjut