Peranan Hak Cabotage Bagi Perusahaan Penerbangan Dalam Negeri Didalam Kebijakan ASEAN OPEN SKY 2015 ( Part IV )


Nama : Fitrio Apriliando

Nim     : 2241.09. 018

Kelas : Zu – 09

BAB III

Dalam kebijakan Asean Open Sky 2015, memiliki suatu tujuan yaitu penyatuan perekonomian di Asean. Hal tersebut sangatlah baik karna mampu meningkatkan perekonomian dan sektor-sektor yang berpotensi untuk berkembang di suatu negara.

Adanya kebijakan ASEAN OPEN SKY 2015 merupakan sebuah keuntungan bagi Indonesia untuk meningkatkan sektor pariwisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan, pada saat ini tidak banyaknya para wisatawan mancanegara yang mengetahui tetang Indonesia khususnya Bali namun mereka tidak mengunjungi Indonesia melainkan mengunjungi kota-kota lain di Asia Tenggara seperti Thailand, Singapura dan Malaysia, hal ini disebab kebanyakan para wisatawan asing untuk menunjungi Indonesia harus melakukan perjalanan yang sedikit agak rumit sebab harus transit di suatu kota untuk menuju Indonesia. Hal ini merupakan suatu ketidak nyamanan dalam melakukan perjalanan ke suatu tujuan seperti wisatawan dari Amerika transit di Hongkong dan wisatawan dari Eropa mereka transit di Abu Dhabi, walau tidak semuanya seperti itu tapi kebanyakan perusahaan penerbangan yang memberikan tiket murah ” low cost ” tidak melakukan penerbangan langsung “ In direct “, hal tersebut menjadi salah satu alasan mereka, mengapa mereka lebih memilih berwisata di Thailand, Malaysia dan Singapura, sebab Thailand, Malaysia dan Singapura melayani penerbangan “ In Direct “ dan perusahaan penerbangan mereka merupakan perusahaan penerbangan 5 star. Dari sektor pariwisata, pemerintah pun dapat meningkatkan devisa negara, banyaknya wisatawan mancanegara yang datang dapat memberikan peningkatan devisa bagi negara dan meningkatkan perekonomian suatu daerah. Itulah keuntungan yang di berikan dari kebijakan tersebut, namun disisi lain kita harus meningkatkan keamanan negara dalam kebijakan tersebut, sebab banyaknya wisatawan mancanegara yang datang  akan berdampak pada keamanan negara dan pemerintah pun di tuntut untuk meningkatkan kualitas perusahaan penerbangan Indonesia dalam menghadapi kebijakan Asean Open Sky 2015, sebab dalam kebijakan ini, perusahaan penerbangan domestik akan bersaing dengan perusahaan penerbangan asing, apabila tidak ada peningkatan kualitas maka akan berdampak pada kurangnya minat para masyarakat untuk menggunakan jasa perusahaan penerbangan Indonesia. hal tersebut, sangat mengancam keberlangsungan operasi perusahaan penerbangan Indonesia.

Menurut Bpk. Prof. Dr. H. K. Martono, S.H., LLM. Tolak ASEAN OPEN SKY 2015 namun apabila diharuskan meliberalisasikan bandar udara cukup 4 bandar udara : Polonia, medan ; Soekarno, Hatta; Juanda, Surabaya dan Ngurah Rai, Bali. Namun, menurut saya, tidak perlu menolak kebijakan tersebut. Dalam sebuah kebijakan selalu memiliki 2 hal yaitu positif dan negatif. Dalam melakukan suatu perubahan dibutuhkan suatu pengorbanan dan kerja keras, kalimat itu pun menggambarkan bahwa dalam mencapai suatu perubahan tidaklah mudah. Hal positif yang di berikan dalam kebijakan tersebut sangatlah menggiurkan, dengan adanya liberalisasi bandar udara maka akan memudahkan akses bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia yang berdampak pada meningkatnya devisa negara. Banyaknya tempat wisata di Indonesia yang memiliki potensi merupakan sebuah daya tarik bagi para wisawatan mancanegara. Untuk bandar udara yang di liberalisasi dalam asas cabotage Indoensia yang merupakan anggota ICAO diberikan hak khusus untuk mengatur dan menutup bandar udaranya dari kepentingan negara lain, sebaiknya Indoensia meliberalisasi bandar udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh; Soekarno, Hatta, Jakarta; Selaparang, Lombok dan Sentai, Jayapura.

Dengan membuka 3 Bandar Udara Internasional tersebut, dapat meminimalisasi risiko bagi perusahaan penerbangan Indonesia dan dapat meningkatkan sektor pariwisata di Aceh, Lombok dan Papua. Soekarno Hatta di jadikan Hub untuk para wisatawan untuk mencapai daerah-daerah seperti Medan, Surabaya, Bali dll sedangkan Aceh, Lombok dan Papua yang merupakan daerah yang memiliki potensi pariwisata akan berkembang dengan adanya kebijakan liberalisasi bandar udara dalam Asean Open Sky 2015. Hal ini merupakan strategi dalam melakukan pemasaran terhadap masyarakat luas bahwa Indonesia memiliki tempat wisata bukan hanya di Bali namun di daerah lain seperti Aceh, Lombok dan Papua, ada tempat wisata yang harus di kunjungi. Kebijakan meliberalisasi bandar udara tersebut merupakan suatu hal yang tepat sebab adanya visi dan misi dalam melakukannya dan kebijakan meliberalisasikan bandar udara di lindungi oleh asas cabotage.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s