NYAMAN GAK SIH ADA TUKANG OJEK DAN TAKSI GELAP DI BANDARA SOEKARNO HATTA?


Nama             : Giriani Ajeng Saputri – 224109221

Retno Wulan – 224109060

Fitri Nisa Utami – 224109297

Marcie Setyawati – 224109063

Kelas              : ZU 09

 

Pada tugas mata kuliah Ground Handling II ke-tujuh ini, kami akan melanjutkan analisis kami terhadap hasil survey yang telah disebarkan secara online. Total responden yang kami dapatkan berjumlah 206 orang. Berikut merupakan diagram serta analisis kami :

1. Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk sampai di bandara Soekarno Hatta?
< 1 jam 41 20%
2 jam 106 51%
> 2 jam 59 29%

Rata-rata waktu yang dibutuhkan adalah 2 jam untuk sampai di Bandara Soekarno Hatta. Ada beberapa yang membutuhkan waktu lebih dari 2 jam. Kami menganalisis, hal tersebut terjadi karena kepadatan yang selama ini terjadi di tol maupun bandara, ternyata juga lebih diakibatkan tingginya pergerakan pesawat dan penumpang hanya di jam-jam tertentu. Angkasa Pura II telah menjanjikan penjadwalan ulang penerbangan agar volume penumpang terdistribusi. Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan merencanakan minimal dua jalur transportasi alternatif, agar ketepatan waktu menuju bandara terpenuhi.

2. Seberapa sering anda menggunakan jasa transportasi udara?
Jarang 166 81%
Sering 33 16%
Sering Sekali 7 3%

Responden kami rata-rata jarang menggunakan jasa transportasi udara. Sehingga kami dapat menarik kesimpulan, ada korelasi antara seringnya penumpang menggunakan jasa transportasi udara dengan adanya tukang ojek dan taksi gelap. Pada umumnya, mereka yang jarang menggunakan jasa transportasi udara, tidak pernah menggunakan tukang ojek maupun taksi gelap karena takut dan merasa tidak nyaman.

3. Akomodasi apa yang anda gunakan untuk sampai di bandara Soekarno Hatta?
 
Mobil 153 74%
Motor 5 2%
Angkutan Umum 48 23%

Hasil survey yang diperoleh dominan pengguna jasa transportasi udara menggunakan mobil pribadi untuk menuju ke bandara. Mengapa mereka tidak menggunakan jasa tukang ojek dan taksi gelap? Analisis kami, karena penumpang tidak tertarik dengan adanya tukang ojek dan taksi yang dianggap tidak aman dan dapat membahayakan bagi keselamatan diri mereka.

4. Jika anda menggunakan angkutan umum, pernahkah anda menggunakan jasa taksi gelap/tukang ojek?
 
Tidak Pernah 167 81%
Pernah 38 18%
Sering 1 0%

Angkutan umum yang dimaksud disini adalah DAMRI. Mereka yang menggunakan DAMRI mungkin jarang menggunakan jasa tukang ojek atau taksi gelap karena alasan DAMRI lebih nyaman dan harganya masih tergolong murah dibanding dengan menggunakan taksi. Tapi apabila dibandingkan dengan menggunakan ojek, tidak senyaman dengan menggunakan DAMRI. Oleh karena itu mengapa mereka tidak pernah menggunakan jasa tukang ojek maupun taksi gelap.

5. Seberapa penting peranan taksi gelap dan tukang ojek di bandara Soekarno Hatta?
 
Tidak Penting 140 68%
Penting 60 29%
Sangat Penting 6 3%

Dari diagram tersebut dapat terlihat jelas,  peranan tukang ojek dan taksi gelap tidak berpengaruh penting bagi penumpang. Masih berhubungan dengan pernyataan sebelumnya, responden kami jarang menggunakan jasa transportasi udara, sehingga mayoritas menjawab peranan tukang ojek dan taksi gelap tidaklah penting. Tetapi di lain sisi, apabila ruas jalan alternatif ke bandara mengalami kemacetan parah sehingga sulit dilalui kendaraan roda empat atau lebih, maka jasa tukang ojek sangat dibutuhkan. Penumpang tentu tidak mau ketinggalan pesawat hanya karena terlambat sampai di bandara untuk cek bagasi atau pengambilan nomor tempat duduk.

6. Pihak Bandara yang melakukan pungli kepada tukang ojek dan taksi gelap harus diberikan sanksi.

Sangat Setuju 114 55%
Cukup Setuju 38 18%
Setuju 43 21%
Kurang Setuju 1 0%
Tidak Setuju 10 5%
 

Masih adanya tukang ojek dan taksi gelap itu sendiri karena ada faktor orang dari ‘dalam’ bandara yang memperbolehkan mereka untuk berkeliaran di sekitar bandara dengan memungut ‘pungutan liar’ secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, Bandara harus dapat mengawasi serta mengontrol bandara secara ketat agar tidak ada lagi pungli tersebut.

Sangat Setuju 45 22%
Cukup Setuju 44 21%
Setuju 49 24%
Kurang Setuju 29 14%
Tidak Setuju 39 19%

7. Taksi gelap dan tukang ojek membayar retribusi kepada pengelola Bandara Soekarno Hatta.

 

Retribusi yang dimaksud disini berbeda dengan ‘pungutan liar’.  Retribusi ini merupakan kebijakan yang dibuat oleh pihak bandara untuk dapat dipatuhi. Tetapi ada beberapa dari responden kami yang menjawab kurang setuju bahkan tidak setuju. Kami menganalisis, bagi mereka yang menjawab demikian, tidak menghendaki adanya tukang ojek dan taksi gelap. Sehingga menurut mereka tidak perlu adanya retribusi, tetapi langsung dihapuskan adanya tukang ojek dan taksi gelap. Namun ada responden yang menjawab setuju sampai sangat setuju adanya penerapan retribusi. Jadi adanya tukang ojek dan taksi gelap menjadi legal di bandara, karena tukang ojek dapat menjadi salah satu alternatif apabila terjadi kemacetan sehingga tidak memungkinkan apabila menggunakan kendaraan roda empat.

Sangat Setuju 125 61%
Cukup Setuju 36 17%
Setuju 40 19%
Kurang Setuju 0 0%
Tidak Setuju 5 2%

8. Menambah jumlah armada bis untuk mengangkut penumpang antar terminal di Bandara untuk menghindari penawaran dari taksi gelap.

 

Tukang ojek dan taksi gelap melakukan aksinya di bandara karena adanya kesempatan bagi mereka untuk dapat menawarkan jasanya tersebut. Kurangnya fasilitas bandara berupa bis masih dirasa minim untuk melayani kebutuhan penumpang di bandara. Responden setuju agar jumlah armada bis ditambah untuk menyiasati adanya tukang ojek dan taksi gelap.

9. Menurunkan harga tarif angkutan DAMRI.
 
Sangat Setuju 109 53%
Cukup Setuju 44 21%
Setuju 36 17%
Kurang Setuju 13 6%
Tidak Setuju 4 2%

 

 

 

 

Salah satu akses menuju bandara yaitu dengan menggunakan DAMRI. Tetapi tarif angkutan DAMRI saat ini dirasakan agak mahal. Seharusnya tarif DAMRI dapat terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dari keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa kepedulian yang dilakukan manajemen bandara dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial eksternal mereka, ternyata belum mampu memenuhi harapan etik (baca :kebutuhan sesungguhnya) masyarakat sekitar. Sebab pokok yang mendasarinya adalah tidak ada kebijakan operasional yang memadai yang dapat dijadikan pedornan dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial. Hal menyebabkan tidak adanya perencanaan yang baik, tidak ada keterpaduan antar berbagai program, struktur organisasi yang kurang mendukung serta SDM yang tidak memadai.

Sejalan dengan rencana pengembangan kawasan bandara ke depan, manajemen bandara perlu melakukan pembenahan terus menerus menyangkut pelaksanaan tanggung jawab sosial. Pembenahan kebijakan juga perlu ditunjang dengan kebijakan organisasi yang mendukung yaitu adanya unit kerja khusus untuk menangani hubungan dengan masyarakat serta mengkoordinasi penanganan masalah sosial termasuk kordinasi pengaturan program-program sosial agar mampu bersinergi. Selanjutnya dukungan sumber daya manusia dan pendanaan yang memadai jelas sangat mempengaruhi keberhasilan upaya pembenahan yang dilakukan. Pembenahan secara konsisten perlu terus dilakukan agar potret kepedulian sosial mereka tidak hanya lebih berwarna namun juga benar-benar mampu memberikan manfaat nyata.

DIAGRAM

10. Tukang ojek dan taksi gelap sering memaksakan penumpang untuk menggunakan jasanya.

Karena status taksi dan ojek yang tidak resmi maka penyedia jasa taksi gelap dan ojek harus lebih ekstra dalam hal promosi agar penumpang mau naik. Mulai dari memasang promo harga bawah dll. Namun hal itu saja tidak cukup untuk  membuat para penumpang tertarik untuk menggunakan jasa taksi gelap dan ojek karena alasan keamanan yang diragunakan oleh para penumpang. Maka karena hal itu para supir taksi gelap secara langsung menawarkan kepada penumpang jasanya dan pasti nya akan terkesan memaksa untuk menggunakan jasanya. Dan dari hasil survey, cukup banyak esponden yang merasa adanya paksaan dari pihak penyedia jasa taksi gelap dan ojek di daerah bandara Soekarno Hatta.

11. Adanya tukang ojek dan taksi gelap di Bandara Soekarno Hatta membuat para penumpang merasa tidak nyaman.

Rasa tidak nyaman yang dirasakan penumpang mungkin karena keberadaan taksi gelap dan ojek cukup banyak di Bandara Soekarno Hatta. Sehingga saat penumpang ingin menggunakan jasa taksi resmi bandara Soekarno Hatta, penumpang kesulitan mendapatkannya. Hasil presentasi yang setuju dengan ketidaknyamanan yang dirasakan cukup besar diisi oleh responden.

12. Keamanan penumpang berkurang dengan adanya tukang ojek dan taksi gelap.

Faktor keamanan sudah pasti sangat diragukan apabila menggunakan jasa transportasi yang tidak resmi. Karena pihak penyedia jasa pastinya tidak dapat menjamin apabila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan seperti sabotase/ tindakan kriminal dan kecurangan dalam tarif angkutan. Karena biasanya jasa taksi gelap suka mematok tarif kepada penumpang dan terkesan memaksa dalam hal tarif angkutan.

13. Harga yang harus dibayar penumpang tidak sesuai dengan jasa yang diberikan.

Penumpabg harus membayar harga yang cukup mahal untuk taksi gelap dan ojek namun segala fasilitas yang diberikan tidak sama dengan harga yang di bayarkan. Baik dalam hal kenyamanan dan keamanan, karena pihak jasa taksi gelap dan ojek tidak bisa bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu hal dan tidak adanya penanggulangan terhadap risiko yang kemungkinan dapat terjadi.

14. Dengan adanya tukang ojek dan taksi gelap membuat pencitraan yang buruk bagi Bandara Soekarno Hatta di mata WNA yang baru datang ke Indonesia.

Bandara merupakan pintu gerbang bagi para wisatawan asing untuk masuk ke suatu negara. Jadi pencitraan yang baik sangat diperlukan di suatu bandara. Karena bandara merupakan tempat yang memberikan kesan pertama pada seseorang yang baru datang ke suatu negara atau kota.  Maka segala hal yang berada di bandara sebaiknya tertata dengan baik dan teratur. Begitu juga dengan transportasi umum yang mendukung suatu bandara. Seharusnya semuanya bisa dikondisikan dengan baik, dan adanya taksi gelap akan memberikan citra buruk dalam hal kenyaman dan keamanan.

15. Kurangnya ketegasan dari pihak pengelola Bandara Soekarno Hatta.

Kasus ini sudah lama terjadi dan pasti nya sudah banyak pihak yang mengeluh dengan adanya kasus taksi gelap dan ojek. Namun pihak pengelola bandara tidakmelakukan tindakan pasti untuk mengurangi atau bahkan meniadakan taksi gelap dan ojek di Bandara soekarno Hatta. Karena sampai saat ini keberadaan taksi gelap dan ojek masih banyak dan cukup menimbulkan ketidaknyamanan para penumpang.

 

16. Himbauan yang terdapat di Bandara Soekarno Hatta tidak dihiraukan.

Himbauan  dan larangan tidak diindahkan, malah himbauan dan peraturan tersebut ada hanya untuk dilarang. Karena tidak adanya perubahan serta tujuan yang terjadi dari adanya himbauan tersebut

 

17. Angkasa Pura II harus memberikan sanksi yang tegas kepada tukang ojek dan taksi gelap.

Pihak Angkasa Pura II harus bisa memberikan sanksi yang tegas. Tindakan yang membuat jera baik moral dan materil sehingga tidak adanya taksi gelap dan ojek di sekitar bandara Soekarno Hatta. Namun segala sanksi juga tidak dapat berjalan apabila pihak-pihak yang bertugas memberikan serta menegakkan peraturan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s