Contoh Laporan D3, IPB – Bogor (Part 5)


IV. KEGIATAN PEMBENIHAN

 

4.1 Pemeliharaan Induk

4.1.1 Persiapan Wadah Pemeliharaan

Persiapan wadah merupakan langkah awal yang turut menentukan keberhasilan suatu usaha pembenihan. Perusahaan Taufan’s Fish Farm akuarium pemijahan maupun pemeliharaan induk dibedakan wadahnya. Adapun proses pembersihan akuarium pemijahan ikan maanvis dilakukan dengan cara menggosok pada bagian dinding akuarium menggunakan amplas. Lakukan penggosokan hingga bersih, dan lakukan berulang-ulang. Disinfeksi wadah dilakukan dengan cara pengeringan akuarium langsung di bawah sinar matahari, dengan tujuan agar patogen-patogen yang berada didalam akuarium menjadi hilang dan tidak meninggalkan bekas. Proses pengisian air akuarium pemeliharaan induk dilakukan dengan cara pengisian air langsung ke dalam akuarium pemijahan maupun pemeliharaan induk. Kapasitas maksimal untuk akuarium pemijahan ukuran 50 x 20 x 40 cm dengan kapasitas 40 liter air.

                           A                                                    B

Gambar 7. Akuarium pemeliharaan (A) dan akuarium pemijahan (B)

4.1.2 Induk

Induk ikan maanvis Pterophyllum scalare yang dimiliki oleh Taufan’s Fish Farm berasal dari petani dan hasil budidaya. Perbandingan induk ikan maanvis adalah 1 : 1 dengan satu induk ikan betina dan satu induk jantan, sedangan jumlah kepadatan dalam satu akuarium pemijahan adalah 1 : 1. Taufan’s Fish Farm memiliki petani-petani binaan untuk memproduksi ikan maanvis, baik itu ukuran benih maupun ukuran calon induk. Induk ikan maanvis yang baru datang dilakukan penyesuaian lingkungan dengan tujuan untuk dikondisikan kedalam wadah baru pemijahan yang terdapat di Taufan’s Fish Farm (Gambar 8).

Gambar 8. Proses adaptasi ikan maanvis

4.1.3 Pemberian Pakan

Pakan merupakan sumber energi yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan dan kematangan gonad. Selama pemeliharaan, induk ikan maanvis diberi pakan cacing darah Bloodworm beku (Gambar 8). Pakan tersebut didapatkan dari supplier yang berasal dari daerah Bandung. Untuk mempertahankan kesegaran, pakan tersebut disimpan di dalam freezer berukuran 150 x 65 x 85 cm.  Setiap hari pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu dicuci dengan tujuan agar mengurangi kotoran yang masuk kedalam akuarium pemijahan, setelah itu pakan diberikan dalam bentuk potongan kecil, dengan tujuan untuk memudahkan ikan memakan pakan sesuai bukaan mulut. Pemberian pakan dilakukan pada pagi hari pada pukul 08.00 – 09.00 WIB, sedangkan pada sore hari pukul 16.00 WIB dengan jumlah ad satiation. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari dan cara pemberian secara dikit demi sedikit hingga induk kenyang. Selain itu, diberikan cacing sutera Tubifex. sp secara bergantian untuk menghindari kejenuhan pakan induk (Gambar 9 A).

A                                                    B

Gambar 9. Tubifex.sp (A) dan Bloodworm (B)

4.1.4 Pengelolaan Kualitas Air

Air merupakan media utama bagi kehidupan ikan, maupun mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsungan hidup ikan.  Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. Kualitas air dalam akuarium di jaga agar senantiasa baik dengan cara penyifonan kotoran pada bagian dasar maupun pada bagian tengah air menggunakan selang berdiameter ¾ inchi dengan panjang 1,5 m yang disambung menggunakan paralon berdiameter 5/8 inchi dengan panjang 35 cm (Gambar 10 A). Proses penyifonan dilakukan selama 30 menit setelah pemberian pakan selesai. Air yang hilang (sebanyak 20%) lalu digantikan dengan air baru. (Gambar 10B).

                               A                                                      B

Gambar 10. Selang sifon (A) dan penyifonan (B).

 

4.1.5 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit

Pencegahan penyakit pada induk dilakukan penyifonan dan pergantian air setiap hari, dengan menjaga kondisi ikan baik dari gesekan renangnya, kondisi tubuh maupun pola makannya, serta mencuci peralatan yang akan dipakai atau yang sudah dipakai seperti akuarium, seser dan selang sifon.

Penyakit yang biasa menyerang induk ikan maanvis di Taufan’s Fish Farm biasanya penyakit yang disebabkan oleh protozoa jenis Oodinium limneticum Velvet penyakit ini menyerang bagian tubuh, sirip dan insang dengan ditandai adanya lapisan kotor seperti karat yang meyelimuti sebagian tubuh ikan yang terserang (Gambar 11A). Metode pengobatan dilakukan dengan cara menggunakan acriflavin (Gambar 10 B) dengan dosis 25 tetes/100 liter air (12,5 ppm) yang dikombinasikan dengan chlorampenicol (Gambar 11 C) dan tetracycline (Gambar 11 D) masing-masing dengan dosis 1 gr/100 liter air (10 ppm) serta ditambahkan dengan garam sebanyak 20 gr/100 liter air (0,2 ppt).

                                 A                                                                                                                  B

                        C                                                          D

Gambar 11. Ciri ikan terserang Velvet (A), acriflavin (B), chloramphenicol (C) dan tetracycline (D).

 

Selama tiga hari proses pengobatan, air tidak disifon dan pemberian pakan hanya diberikan sedikit, hal ini dikarenakan selama proses pengobatan ini nafsu makan ikan berkurang sehingga sisa pakan dapat mempengaruhi kualitas air menjadi kurang baik. Pada hari ke empat saat pengobatan, pergantian air dilakukan sebanyak 20%.

 

4.2 Pemijahan Induk

4.2.1 Persiapan Wadah

Sebelum pemijahan dilakukan persiapan wadah yang baik agar proses pemijahan dapat berlangsung dengan sempurna. Persiapan wadah diawali pembersihan akuarium dengan cara menyikat bagian dinding dan dasar akuarium hingga bersih, selanjutnya dilakukan  pengeringan dan pengisian air kembali.

Setelah itu dilakukan pemasangan substrat berupa paralon, filter dan aerasi. Substrat paralon berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan telur, sedangkan fungsi filter adalah untuk menyaring kotoran dalam wadah pemijahan maupun wadah pemeliharaan. Fungsi aerasi adalah untuk menyuplai kandungan oksigen yang dialirkan melalui pipa ke wadah pemijahan. Induk-induk yang telah matang gonad dipindahkan ke dalam wadah pemijahan (Gambar 13 D).

A                                                       B

 C                                                          D

Gambar 12. Proses persiapan wadah pemijahan ikan maanvis

4.2.2 Seleksi Induk

Seleksi induk yang dilakukan Taufan’s Fish Farm dilakukan dengan cara memilih induk yang siap memijah dan memiliki kualitas yang baik, sehingga akan menghasilkan keturunan yang baik. Adapun kriteria induk maanvis yang baik untuk dipijahkan adalah induk yang berumur delapan bulan dengan panjang tubuh sekitar 7,5 cm dan memiliki anggota tubuh yang lengkap (tidak cacat), gerakan lincah, nafsu makan baik dan sehat. Induk yang siap memijah dapat dilihat dari tingkah laku pada waktu pemeliharaan induk, yakni cenderung memisahkan dirinya dari kumpulan ikan lainnya. Adapun cara untuk membedakan ciri kelamin jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Perbedaan antara jantan dan betina ikan maanvis

No

Kriteria Jantan Betina

1.

Tubuh Lebih besar Lebih kecil

2.

Sirip punggung Panjang dan bergerigi kasar pada sirip punggung bagian depan Sirip punggung lebih pendek dan bergerigi halus

3.

Kepala Terdapat benjolan pada bagian atas Kepala datar dengan punggung

4.

Penampilan Lebih menarik Kurang menarik

 

Gambar 13.Induk ikan maanvis

 

4.2.3 Teknik Rangsangan dan Pemijahan

Teknik pemijahan ikan maanvis di Taufan’s Fish Farm, dilakukan secara alami melalui manipulasi lingkungan yaitu dengan cara memasang substrat pada wadah pemijahan, menggunakan air yang berkualitas baik dan menjaga agar aerasi tetap menyala. Induk ikan maanvis yang dipijahkan berjumlah 4 pasang yang di simpan di dalam satu atau empat akuarium.

Substrat berupa paralon selain berfungsi untuk merangsang pemijahan juga merupakan tempat untuk meletakkan telur hasil pemijah. Induk jantan dan betina secara bergantian membersihkan tempat menempelnya telur dengan menggunakan mulutnya, setelah semuanya sudah bersih kemudian induk betina akan mengeluarkan telur selanjutnya induk jantan akan membuahi telur tersebut. Setelah telur dibuahi, induk ikan akan menjaga telurnya hingga menetas (Gambar 15).

Gambar 14.Proses peletakan substrat (paralon)

4.2.4 Pemanenan dan Perhitungan Telur

Telur ikan maanvis hasil pemijahan berdiameter 1,1 mm, berwarna bening transparan dan menempel pada substrat. Kegiatan setelah pemijahan adalah memindahkan telur dari tempat pemijahan ke tempat penetasan telur. Jumlah telur yang dihasilkan dilakukan perhitungan dengan cara membuat kotak-kotak pada bagian substrat paralon, dengan tujuan mempermudah perhitungan jumlah telur yang dihasilkan.

Gambar 15. Penghitungan jumlah telur yang dihasilkan dengan cara membuat kotak di substrat

 

Setelah jumlah telur diketahui maka telur siap untuk dipindahkan ke wadah penetasan. Adapun data jumlah telur dari 6 jumlah induk betina selama pemijahan bulan Maret 2010 tercantum dalam Tabel 5.

 

 

 

          Tabel 5. Jumlah Telur yang Dihasilkan pada Bulan Maret-April 2010

Tanggal

Panen

Jumlah Telur

(Butir)

10/03/2010

400

15/03/2010

450

24/03/2010

480

30/03/2010

340

7/04/2010

450

13/04/2010

400

Total

2,520 butir telur

Rata-rata

420 butir telur

 

4.3 Penetasan Telur

4.3.1 Persiapan Wadah

Wadah penetasan telur yang terdapat di Taufan’s Fish Farm yaitu berupa akuarium berbentuk persegi panjang sebanyak 12 buah.  Masing-masing akuarium tersebut memiliki ukuran 50 × 20 × 40 cm dengan kapasitas air 40 liter.  Setiap akuarium dilengkapi dengan selang aerasi, substrat dengan filter penyaring kotoran. Adapun akuarium pemijahan dapat dilihat pada (Gambar 17 D).

 

    A                                                     B

C                                                    D

Gambar 16. Proses persiapan wadah penetasan telur

 

Wadah yang akan digunakan untuk penetasan maupun pemijahan terlebih dahulu dicuci dengan cara digosok menggunakan amplas kaca, setelah itu akuarium dibersihkan menggunakan spon (busa) dan dibilas menggunakan air bersih lalu dikeringkan. Dengan cara itu kotoran yang menempel pada akuarium dan patogen dapat hilang. Setelah kering air dimasukkan air 40 liter, serta filter dan aerasi dipasang sesuai dengan kebutuhan ikan. Fungsi filter yaitu dengan tujuan untuk menyaring kotoran, sedangkan fungsi aerasi adalah untuk menambahkan kandungan oksigen terlarut dan mempercepat penguapan gas beracun dalam air. Akuarium yang sudah diberikan peralatan lalu diberikan methylene blue (MB) yang berfungsi untuk pencegahan dari serangan jamur ditelur ikan maanvis. Adapun dosis yang diberikan adalah 10 tetes untuk 20 liter air (25 ppm).

 

4.3.2 Penebaran Telur dan Penetasan

Pemindahan telur dilakukan dengan cara memindahkan paralon yang berisi telur dari akuarium pemijahan ke dalam akuarium penetasan. Setelah hari ke dua akan terlihat telur yang tidak dibuahi akan berwarna kuning keemasan dan berwarna bening. Setelah hari ke ke lima, biasanya telur akan menetas, namun larva masih berada di substrat (paralon). Pada hari ke delapan larva mulai terlepas dari paralon lalu berenang bebas (free swimming).

Gambar 17. Proses pemindahan telur

 

Tabel 6. Derajat pembuahan ikan maanvis

No

Tanggal bertelur

Jumlah telur

(Butir)

Jumlah telur yang menetas (Butir)

HR

(%)

1.

10 Maret 2010

400

320

80

2.

15 Maret 2010

450

340

75,5

3.

24 Maret 2010

480

325

67,7

4.

30 Maret 2010

340

210

61,7

5.

7 April 2010

450

310

68,8

6.

13 April 2010

400

300

75

Jumlah

2,520

1,805

428,7

Rata-rata

420

300,8

71,45

 

Rumus perhitungan derajat penetasan telur adalah :

Derajat pembuahan =  x 100%

 

4.3.3 Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate)

Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada hari ke-13 saat larva sudah bisa berenang, lalu dihitung derajat penetasan. Perhitungan derajat penetasan dapat dihitung dari larva berumur empat hari, sehingga mempermudah perhitungannya. Adapun rumus untuk perhitungan derajat penetasan adalah :

 

Derajat pembuahan =  x 100%

=  x 100%

= 80%

 

Metode yang digunakan adalah dengan mengamati telur pada substrat dan jumlah larva yang menetas. Dari jumlah telur yang ada pada substrat tersebut yaitu 500 butir, telur yang menetas adalah 400. Dengan demikian derajat penetasan adalah 80%.

 

4.4 Pemeliharaan Larva dan Benih

4.4.1 Pemeliharaan Larva

Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan akuarium yang digunakan untuk penetasan telur (Gambar 19) sehingga tidak dilakukan penebaran larva. Pemberian pakan berupa Artemia diberikan larva pada umur empat sampai lima hari, setelah satu bulan larva diberi pakan berupa cacing sutera. Pemberian pakan diberikan pada pagi hari pukul 08.00 dan sore hari pukul 16.00 WIB.

Gambar 18. Akuarium penetasan telur

4.4.2 Manajemen Pemberian Pakan

Ikan maanvis yang masih berumur 0 – 3 hari belum diberi pakan, karena cadangan makanan berupa kuning telur (yolk egg) masih ada. Pada hari ke empat larva mulai lepas dari substrat dan mulai berenang bebas. Cadangan makan berupa kuning telur sudah mulai berkurang, sehingga larva akan mencari makanan. Pakan yang diberikan pada larva disesuaikan dengan kondisi organ pencernaan.

Gambar 19. Merk dagang Artemia (Supreme plus)

 

Pakan larva berumur empat hari berupa naupli Artemia dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 08.00 WIB, siang hari pukul 13.00 WIB, dan sore hari pada pukul 16.00 WIB secara ad satiation. Jumlah rata-rata Artemia yang dihabiskan per hari sebanyak 5 ml untuk 400 ekor larva.

Gambar 20. Proses pemberian pakan larva

4.4.3 Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air dimaksudkan untuk menjaga kualitas air diakuarium pemeliharaan larva senantiasa baik dengan dilakukan cara penyiponan dan pergantian air dasar akuarium. Penyifonan menggunakan selang kecil yang berdiameter ¼ inchi dengan panjang 35 cm, tujuannya untuk mempermudah penyifonan (Gambar 22). Penyiponan dilakukan secara perlahan dan hati-hati sehingga kotoran yang mengendap tidak teraduk dan larva tidak ikut terbawa. Penyifonan dilakukan setiap pagi hari yaitu pada pukul 09.00 WIB sebanyak 20% dari volume air, setelah itu air diisi kembali hingga 40 liter.

Gambar 21. Penyifonan akuarium larva ikan maanvis

 

Pengecekan kualitas air dilakukan seminggu sekali dengan menggunakan kertas lakmus dan termometer. Kualitas air yang baik bagi pemeliharaan larva dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Parameter Kualitas Air Bagi Pemeliharaan Larva Maanvis

No

Parameter

Nilai

1.

Suhu

25 – 26oC

2.

pH

6 – 6,5

4.4.4 Pencegahan dan Pemberantasan Hama Penyakit

Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit banyak cara yang dilakukan, salah satunya yaitu dengan cara pergantian air, pengobatan dan pencegahan dengan menggunakan treatmen tertentu. Pada saat melaksanakan praktek kerja lapangan dalam mengatasi pencegahan dan pemberantasan hama penyakit, setiap divisi pembenihan di Taufan’s Fish Farm memilki cara dan teknik yang berbeda-beda.

Penyakit yang umum menyerang pada larva adalah penyakit Velvet. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis protozoa jenis Oodinium limneticum. Penyakit ini menyerang bagian tubuh, sirip dan insang dengan ditandai dengan adanya lapisan kotor seperti karat yang menyelimuti sebagian tubuh ikan. Pengobatan untuk ikan yang terserang dengan cara menggunakan Acriflavin sebanyak 25 tetes/100 liter air (12,5 ppm) yang dikombinasikan dengan Chlorampenicol dan Tetracycline masing-masing dengan dosis 1 gr/100 liter air (10 ppm) serta ditambahkan garam sebanyak 20 gr/100 liter air (0,2 ppt). Selama jangka waktu tiga hari proses pengobatan, air tidak disifon dan pemberian pakan hanya diberikan sedikit saja, karena selama pengobatan nafsu makan ikan berkurang. Pada hari keempat setelah pengobatan, pergantian air dilakukan dengan cara menyifon hanya 20%. Jika pada hari ke empat ikan masih terlihat sakit, dilakukan penambahan obat dengan pemberian setengah dosis.

 

4.4.5 Pengamatan Populasi dan Pemindahan Benih

Pengamatan populasi dilakukan bersamaan dengan penyeragaman ukuran (grading). Grading merupakan salah satu teknik untuk menyeragamkan ukuran. Proses grading dilakukan pada pagi hari sebab pagi hari itu suhu masih optimal untuk benih ikan maanvis dan terhindar dari stess pada ikan. Grading dilakukan pada saat benih ukuran S dengan panjang tubuh berkisar 1,5 – 2 cm atau pada saat benih berumur 1 bulan. Proses grading dilakukan dengan penangkapan ikan lalu dipilih dan dikelompokkan berdasarkan ukuran yang sama. Hasil grading dihitung, sehingga populasi ikan dapat dihitung dengan cara menghitung ikan setiap grade dan menjumlahkannya.

 

                                      A                                          B

Gambar 22. Kegiatan grading (A) dan kegiatan sampling pertumbuhan (B)

4.5 Pemanenan dan Pengepakan Benih

4.5.1 Pemanenan Benih

Sebelum dilakukan pemanenan, biasanya benih di lakukan grading terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang tidak masuk pasaran karena cacat (abnormalitas).  Benih dipanen ukuran S dengan panjang tubuh 1,5 – 2 cm atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli). Proses pemanenan biasanya dilakukan dipagi hari, hal ini dikarenakan fluktuasi suhu pagi hari rendah sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading. Proses pemanenan dilakukan dengan cara memilih ukuran ikan yang sesuai dengan pasar, setelah itu dilakukan pengepakan benih yang siap jual konsumen. Adapun proses grading yang dilakukan dapat dilihat pada (Gambar 24).

Gambar 23. Proses pemanenan ikan maanvis

 Kelangsungan hidup =  x 100%

 

Tabel 8. Kelangsungan hidup ikan maanvis hingga berumur 30 hari

No

Tanggal penebaran

∑ benih hari ke-0

Pemanenan

SR (%)

Tanggal

∑ benih hari ke-30

1.

10 Maret 2010

320

10 April 2010

288

90

2.

15 Maret 2010

340

15 April 2010

275

80,8

3.

24 Maret 2010

325

24 April 2010

237

72,9

4.

30 Maret 2010

375

30 April 2010

247

65,8

5.

7 April 2010

310

7 Mei 2010

258

83,2

6.

13 April 2010

300

13 Mei 2010

267

89

Jumlah

Rata-rata

1,970

328,3

1,572

262

481,7

80,2

 

4.6 Pengepakan dan Transportasi Benih

Pengepakan untuk transportasi jarak dekat menggunakan kantong plastik, sedangkan pengepakan transportasi jarak jauh dilakukan menggunakan kantong plastik yang disimpan dalam box strerofoam. Transportasi jarak dekat umumnya menggunakan kendaraan motor dan kendaraan roda empat, sedangkan tranportasi jarak jauh menggunakan pesawat atau kereta api. Pengakutan benih yang dilakukan di Taufan’s Fish Farm menggunakan sistem pengangkutan tertutup baik untuk jarak dekat maupun jarak jauh. Pada pengepakan, kantung plastik berukuran 60 x 40 cm diisi air sebanyak 2,5 – 3 liter. Ikan hasil dari sortasi dimasukkan kedalam kantong plastik dengan kepadatan ikan adalah 50 ekor tiap kantongnya, selanjutnya diisi oksigen dengan Perbandingan 1 : 2 untuk proses pengangkutan.

A

                            B                                                    C

Gambar 24. Proses packing (A) dan proses pengangkutan (B, C)

 

Pengangkutan jarak dekat dalam jumlah sedikit menggunakan sepeda motor dengan alat bantu ransel besar yang dapat menampung sebanyak 12 katong ikan maanvis yang sudah dipacking. Pengangkutan ikan dengan jarak jauh dalam jumlah besar menggunakan mobil panther. Pengangkutan jarak jauh kantong yang sudah dikemas packing disusun rapi didalam box sterofoam ukuran 70 x 30 cm, yang disusun sebanyak 6 kantong. Kantong yang berada didalam box sterofoam kemudian di tambahkan es batu sebanyak 3 buah, dengan tujuan untuk menstabilkan suhu air didalam kantong. Pengangkutan jarak jauh seperti ke daerah Surabaya dilakukan pada malam hari, dengan tujuan menstabilkan suhu air didalam kantong sehingga ikan yang berada dalam kantong tidak mengalami stress dan kematian.

Gambar 25. Pengangkutan menggunakan mobil

4.7 Penyediaan Pakan

4.7.1 Penetasan Siste Artemia

Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan maanvis di Taufan’s Fish Farm yaitu Artemia sp. Pakan alami sangat penting perananya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam pemeliharaan larva dan benih ikan maanvis. Penetasan siste Artemia menggunakan wadah yang terbuat dari fiber berbentuk kerucut dengan volume 60 liter dan diletakkan di kerangka besi yang tujuannya adalah untuk menahan bak fiber.

Gambar 26. Proses penetasan siste Artemia

 

Tahapan yang dilakukan dalam penetasan Artemia sebagai berikut :

  1. Langkah awal yang dilakukan adalah membersihkan wadah penetasan dengan dibilas menggunakan amplas, lalu dibilas hingga tidak ada kotoran yang tertinggal.
  2. Selanjutnya dimasukkan media penetasan yang berupa air garam yaitu dengan melarutkan 1 kg garam dimasukkan ke dalam 20 liter air.
    1. Siste Artemia sebanyak 30 gram dimasukkan kedalam wadah penetasan.
  3. Selama inkubasi siste Artemia aerasi dilakukan terus-menerus agar kandungan oksigen terpenuhi.
    1. Proses penetasan Artemia membutuhkan waktu selama 24 jam.

 

 

 

 

 

 

Tahapan yang dilakukan dalam pemanenan Artemia sebagai berikut :

  1. Setelah telur Artemia menetas aerasi dimatikan selama 10 – 15 menit, yang terjadi adalah telur yang tidak menetas muncul di atas permukaan air, sedangkan telur yang menetas berada didasar air.
  2. Dilakukan penyifonan naupli Artemia menggunakan selang berdiameter ¾ inchi.
  3. Dari hasil penyifonan dilakukan penampungan ke dalam wadah dengan ukuran 60 x 40 x 40 cm.
  4. Setelah ditampung, lalu diberikan aerasi agar naupli Artemia tidak mudah mati.
  5. Naupli Artemia langsung dapat diberikan kepada larva ikan maanvis.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s